Luka Bakar

Luka bakar dan luka akibat benda panas berkaitan dengan risiko tinggi kematian pada anak. Yang bertahan hidup, akan menderita cacat dan trauma psikis sebagai akibat rasa sakit dan perawatan yang lama di rumah sakit.

Penilaian

Luka bakar dapat terjadi pada sebagian lapisan kulit atau lebih dalam. Luka bakar yang dalam (full-thickness) berarti seluruh ketebalan kulit pasien mengalami kerusakan dan tidak akan terjadi regenerasi kulit.

Tanyakan dua hal berikut:

  • Sedalam apakah luka bakar tersebut?
    • Luka bakar dalam, berwarna hitam/putih dan biasanya kering, tidak terasa dan tidak memucat bila ditekan.
    • Luka-bakar-sebagian, berwarna merah muda atau merah, melepuh atau berair dan nyeri.
  • Seberapa luas tubuh pasien yang terbakar?
    • Gunakan bagan luas permukaan tubuh berdasarkan umur berikut ini.
    • Sebagai pilihan lain, gunakan telapak tangan pasien untuk memperkirakan luas luka bakar. Telapak tangan pasien berukuran kira-kira 1% dari total permukaan tubuhnya.

Bagan perkiraan persentase permukaan tubuh yang terbakar

Perkirakan total daerah yang terbakar dengan menjumlahkan persentase permukaan tubuh yang terkena seperti yang ditunjukkan dalam gambar (lihat tabel untuk daerah A–F yang berubah sesuai dengan umur pasien).

Tatalaksana

  • Rawat inap semua pasien dengan luka bakar >10% permukaan tubuh; yang meliputi wajah, tangan, kaki, perineum, melewati sendi; luka bakar yang melingkar dan yang tidak bisa berobat jalan.
  • Periksa apakah pasien mengalami cedera saluran respiratorik karena menghirup asap (napas mengorok, bulu hidung terbakar),
    • Luka bakar wajah yang berat atau trauma inhalasi mungkin memerlukan intubasi, trakeostomi
    • Jika terdapat bukti ada distres pernapasan, beri oksigen (lihat bagian 10.7).
  • Resusitasi cairan (diperlukan untuk luka bakar permukaan tubuh > 10%). Gunakan larutan Ringer laktat dengan glukosa 5%, larutan garam normal dengan glukosa 5%, atau setengah garam normal dengan glukosa 5%.
    • 24 jam pertama: hitung kebutuhan cairan dengan menambahkan cairan dari kebutuhan cairan rumatan (lihat bagan 17) dan kebutuhan cairan resusitasi (4 ml/kgBB untuk setiap 1% permukaan tubuh yang terbakar)
      • Berikan ½ dari total kebutuhan cairan dalam waktu 8 jam pertama, dan sisanya 16 jam berikutnya.
        Contoh: untuk pasien dengan berat badan 20 kg dengan luka bakar 25%
        Total cairan dalam waktu 24 jam pertama
        = (60 ml/jam x 24 jam) + 4 ml x 20kg x 25% luka bakar
        = 1440 ml + 2000 ml
        = 3440 ml (1720 ml selama 8 jam pertama)
    • 24 jam kedua: berikan ½ hingga ¾ cairan yang diperlukan selama hari pertama
    • Awasi pasien dengan ketat selama resusitasi (denyut nadi, frekuensi napas, tekanan darah dan jumlah air seni)
    • Transfusi darah mungkin diberikan untuk memperbaiki anemia atau pada luka-bakar yang dalam untuk mengganti kehilangan darah.
  • Mencegah Infeksi
    • Jika kulit masih utuh, bersihkan dengan larutan antiseptik secara perlahan tanpa merobeknya.
    • Jika kulit tidak utuh, hati-hati bersihkan luka bakar. Kulit yang melepuh harus dikempiskan dan kulit yang mati dibuang.
    • Berikan antibiotik topikal/antiseptik (ada beberapa pilihan bergantung ketersediaan obat: peraknitrat, perak-sulfadiazin, gentian violet, povidon dan bahkan buah pepaya tumbuk). Antiseptik pilihan adalah perak-sulfadiazin karena dapat menembus bagian kulit yang sudah mati. Bersihkan dan balut luka setiap hari.
    • Luka bakar kecil atau yang terjadi pada daerah yang sulit untuk ditutup dapat dibiarkan terbuka serta dijaga agar tetap kering dan bersih.
  • Obati bila terjadi infeksi sekunder
    • Jika jelas terjadi infeksi lokal (nanah, bau busuk, selulitis), kompres jaringan bernanah dengan kasa lembap, lakukan nekrotomi, obati dengan amoksisilin oral (15 mg/kgBB/dosis 3 kali sehari), dan kloksasilin (25 mg/kgBB/dosis 4 kali sehari). Jika dicurigai terdapat septisemia gunakan gentamisin (7.5 mg/kgBB IV/IM sekali sehari) ditambah kloksasilin (25–50 mg/kgBB/dosis IV/IM 4 kali sehari). Jika dicurigai terjadi infeksi di bawah keropeng, buang keropeng tersebut .
  • Menangani rasa sakit
    • Pastikan penanganan rasa sakit yang diberikan kepada pasien adekuattermasuk perlakuan sebelum prosedur penanganan, seperti mengganti balutan.
    • Beri parasetamol oral (10–15 mg/kgBB setiap 6 jam) atau analgesik narkotik IV (IM menyakitkan), seperti morfin sulfat (0.05–0,1 mg/kg BB IV setiap 2–4 jam) jika sangat sakit.
  • Periksa status imunisasi tetanus
    • Bila belum diimunisasi, beri ATS atau immunoglobulin tetanus (jika ada)
    • Bila sudah diimunisasi, beri ulangan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) jika sudah waktunya.
  • Nutrisi
    • Bila mungkin mulai beri makan segera dalam waktu 24 jam pertama.
    • Anak harus mendapat diet tinggi kalori yang mengandung cukup protein, vitamin dan suplemen zat besi.
    • Anak dengan luka bakar luas membutuhkan 1.5 kali kalori normal dan 2-3 kali kebutuhan protein normal.

Kontraktur luka bakar

​Luka bakar yang melewati permukaan fleksor anggota tubuh dapat mengalami kontraktur, walaupun telah mendapatkan penanganan yang terbaik (hampir selalu terjadi pada penanganan yang buruk).

  • Cegah kontraktur dengan mobilisasi pasif atau dengan membidai permukaan fleksor Balutan dapat menggunakan gips. Balutan ini harus dipakai pada waktu pasien tidur.

Fisioterapi dan rehabilitasi

  • Harus dimulai sedini mungkin dan berlanjut selama proses perawatan luka bakar.
  • Jika pasien dirawat-inap dalam jangka waktu yang cukup lama, sediakan mainan untuk pasien dan beri semangat untuk tetap bermain.